Ilmu sebelum berdagang

1. tipe barang dagangan
ada beberapa cara memilih barang yang mau diperdagangkan secara efektif, yaitu:
– sesuaikan dengan minat kita
misal,  sangat tertarik dengan dunia elektronika, utak atik tivi, dvd player, dll, maka barang jenis ini layak untuk diperdagangkan, karena pasti  akan lebih menikmati proses mencari uang dengan menjual barang2 tsb.
– sesuaikan dengan karakteristik daerah tempat tinggal kita
jika tinggal di kampung yang agak pedalaman, maka tidak layak kalau  buka showroom mobil di sana, atau butik baju2 berkelas, karena pasti peminatnya juga akan sangat sedikit. begitu pula jika tinggal di kota besar, gak akan banyak peminat kalau jualan gerabah dari tanah liat, atau aneka caping yang biasa dipakai petani.
– sesuaikan dengan modal kita
intinya, modal besar –> carilah barang dagangan yang cepat terjual (fast moving) meskipun margin nya sedikit
modal kecil –> carilah barang dagangan yang margin nya besar sekalipun lama terjual (slow moving)
penjabaran tentang ini akan dibahas lebih detil di bawah

2. membaca kekuatan modal
point kedua ini akan sekaligus menjelaskan tentang “sesuaikan barang dagangan dengan modal kita”
misal  punya modal 10juta, dan  dagang barang2 sembako yang keuntungan rata2 per pcs nya 3%.
barang sembako adalah barang yang fast moving, jadi barang-barang  cepat habis dan cepat masuk stok, lalu habis lagi, dst..
agar lebih mudah, begini ilustrasinya:
10jt — hari ke-3 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,3jt
10,3jt — hari ke-6 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,6jt
10,6jt — hari ke-9 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,9jt
dst..
sampai pada hari ke-30 (1 bulan) barang habis, modal menjadi 13,43jt

sekarang misal ane punya modal 10jt, dan ane dagang baju (eceran pastinya), yang keuntungan mencapai 30% per pcs, tapi slow moving
10jt — hari ke-7 barang habis, untung 30%, modal jadi 13jt
13jt — hari ke-14 barang habis, untung 30%, modal jadi 16,9jt
16,9jt — hari ke-21 barang habis, untung 30%, modal jadi 21,9jt
21,9jt — hari ke-28 barang (1 bulan) habis, untung 30%, modal jadi 28,5jt

nah berarti bisa disimpulkan, modal kecil harus jualan barang yang margin nya besar, sekalipun barang tsb slow moving.

nah, sekarang, misal  punya modal 100jt,  jualan sembako. jika disamakan dengan ilustrasi di atas, maka pada hari ke-30 (1 bulan) barang habis, modal menjadi 130,43jt

sedangkan kalo  bisnis baju (eceran), gak akan sesuai dengan ilustrasi sebelumnya. mengapa? karena bisnis baju eceran slow moving, dan jika kita stok barang hingga senilai 100juta, bisa dipastikan barang tidak akan cepat habis terjual. jika mau cepat habis terjual, maka harus jual grosir yang margin nya mungkin berkisar 5-10% saja, dan tetap saja tidak berputar secepat jual sembako.

jadi kesimpulannya, modal besar harus jualan barang yang fast moving, sekalipun marginnya kecil


3. jangan terlalu manjakan pelanggan!

pepatah lama bilang, “pelanggan adalah raja”
tapi  berani bilang, “tidak semua pelanggan adalah raja”
kenapa? karena tidak semua pelanggan loyal terhadap kita!
kita semua adalah pelanggan, pelanggan warung tetangga, pelanggan operator selular, pelanggan tukang sayur, pelanggan angkot, dll
sekarang, misal ada tukang sayur baru yang jual lebih murah dari tukang sayur langganan kita, apakah kita tidak tertarik untuk pindah langganan? belum lagi jika tukang sayur tsb lebih lengkap dagangannya, bisa diutang lagi
begitu pun kita, dalam berdagang, akan banyak kejadian pelanggan yang suka berpindah-pindah. sekalipun kita servis dia dengan nilai plus, berupa diskon, atau layanan yang ramah, bahkan hutang, tapi tidak akan ada pelanggan yang 100% loyal terhadap anda!
misal jualan sembako,  jual minyak goreng murah, tapi di sebelah  ada warung yang jual terigu murah, maka bisa saja terjadi, pelanggan  hanya beli minyak goreng  (hutang lagi) tapi diam2 beli terigu ke warung sebelah, sekalipun  sudah mati2an menjaga dia supaya belanja hanya ke tempat saya (biasanya diikat dengan memberi hutang ke pelanggan tsb). besoknya,  turunin harga terigu , eh pelanggan tsb tetep aja belanja ke sebelah, karena timbangannya lebih “anget” di sana. besoknya lagi timbangan terigu  “angetin”, dia teteppp aja belanja ke sebelah, karena ternyata dia suka sama pedagang nya yang guanteng

pusing dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s