Gaya Marketing Asia Timur: PERGI DAN LIHAT SENDIRI!


Gaya marketing Jepang, Korea dan China yang lebih adaptif akan menggantikan gaya marketing ala Barat yang eksklusif, kaku dan pilih kasih. Merek mereka akhirnya justru bisa lebih diterima di pasar Indonesia, bahkan lebih dari merek lokal Indonesia sekalipun.

Mr. Kim Sam Jin terlihat begitu percaya diri berbicara di hadapan audience di acara Marketing Award. Tidak berbicara dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, Mr. Kim berbicara dalam bahasa Korea. Mr. Kim adalah CEO PT Inni Ceragem, salah satu perusahaan pemenang Marketing Award. Perusahaan ini diberi penghargaan karena mempunyai strategi yang unik dan experiential dalam meraih pelanggan. Caranya memang unik! Mereka memberikan terapi kesehatan gratis kepada masyarakat, khususnya masyarakat kelas bawah dan para jompo, kapan pun mereka mau. Tidak ada kesan memaksakan menjual produk, para agen justru melayani seperti layaknya para pekerja sosial. Namun, gaya seperti ini bisa menghasilkan puluhan miliar rupiah bagi perusahaan.

Memang itulah gaya pemasaran unik yang dilakukan perusahaan asal Korea Selatan ini. Perusahaan dengan slogan “Love, Service and Kindness” ini bahkan sudah menjadi perusahaan global di banyak negara seperti AS dan Kanada, sebelum masuk ke Indonesia.

Merek Ceragem, seperti halnya beberapa merek Korea lain seperti Samsung dan LG, adalah pemain global. Mereka berani menantang para pemain global lain, termasuk saudara tua mereka, Jepang. Kenyataannya, Samsung, LG, dan Hyundai, kini sudah termasuk dalam 100 most valuable brand di dunia versi Business Week dan Interbrand. Disusul kemudian oleh China yang punya merek-merek besar seperti Lenovo, ZTE, Haier, dan lain-lain.

Mengambil Alih
Pasar Asia, termasuk Indonesia, sepertinya memang menjadi arena pertempuran tiga negara ini: Jepang, Korea dan China. Setelah beberapa merek leader dari Amerika Serikat gagal di pasar Indonesia, merek Jepang dan Korea mulai mengambil alih. Ambil contoh Kodak yang menjadi market leader dunia. Ternyata, pasarnya diambil oleh Fuji Film. Juga Caterpillar, market leader alat berat itu harus mengakui kepemimpinan Komatsu di Indonesia. Sementara di bidang otomotif, jangan ditanya lagi. Sudah sejak tahun 1970-an, merek-merek Jepang mengambil alih pasar di Indonesia dari merek Amerika dan Eropa.

Kini di tahun 2010, apakah negara-negara tersebut masih akan mendominasi beberapa kategori produk di Indonesia? Para ahli banyak yang mengatakan bahwa tahun Macan adalah tahun kebangkitan negara-negara Asia yang dipimpin oleh tiga negara Asia Timur: Jepang, Korea dan China. Di belakang mereka sudah ada sejumlah negara yang akan mengikuti jejak mereka, seperti Taiwan, India, Singapura, dan Malaysia.

Merek ketiga negara ini bisa unggul disebabkan oleh pendekatan marketing mereka yang lebih pas dalam memenuhi kebutuhan pasar. Padahal, negara Barat adalah empu-nya marketing. Mereka pencipta model dan strategi marketing yang jitu. Kreativitas mereka di dunia komunikasi pun sepertinya tak pernah habis. Namun kenyataannya, mereka harus terdesak oleh tiga “Macan Asia” ini. Lihat saja bagaimana Toyota mengambil alih pasar mobil di AS. Juga ada merek-merek dominan seperti Honda, Yamaha, Sony, Nippon, Suzuki, Shiseido, dan Canon. Kini ada Samsung, LG, Hyundai, dan Daewoo, dari Korea. Juga mulai muncul Lenovo, Bird, dan Haier, dari China.

Semangat Kerja Keras
Perhatian soal kegemilangan “Macan Asia” di dunia marketing ini sebenarnya sudah ada sejak awal 1980-an. Ketika itu, Philip Kotler sudah mengeluarkan artikel berjudul “The World’s Champion Marketers: The Japanese”. Peter Drucker, ahli manajemen, bahkan ketika itu mengatakan, “Pada saat sebagian besar negara di dunia berbicara soal marketing, orang-orang Jepang sudah melakukannya.”

Semangat kaizen yang ingin selalu melakukan perbaikan dan genchi genbutsu (pergi dan lihatlah sendiri) untuk memahami situasi, bisa jadi merupakan salah satu kunci Jepang bisa sukses memasarkan produk di berbagai negara. Jepang, dahulu identik dengan me-too-product. Mereka adalah bangsa peniru. Menjalankan strategi sebagai follower ketimbang pionir. Namun, dengan semangat pembelajaran yang tinggi, akhirnya mereka bisa lebih berhasil dibandingkan pionirnya.

Menurut Andre Wenas, pakar global marketing, Jepang memang sudah menjadi raksasa ekonomi. Besaran GDP-nya di tahun 2010 diperkirakan sebesar US$ 5.128 triliun. Adanya sikap spartan, ulet, tekun, rinci, serta kemauan belajar yang keras merupakan budaya yang mendorong keberhasilan merek Jepang di berbagai belahan dunia.
Sama halnya dengan Andre, Bob Widyahartono, pengamat Asia Timur dari Fakultas Ekonomi Tarumanegara ini mengatakan bahwa masyarakat Jepang memiliki jiwa dan semangat “makoto”, yakni kesungguhan untuk menjunjung tinggi kemurnian batin dan motivasi. Ada pengaruh mental Samurai yang pantang menyerah. Juga ada pengaruh Zen yang melihat pekerjaan duniawi sebagai laku tapa.

Keinginan belajar yang terus-menerus membuat merek Jepang juga cenderung lebih adaptif dibandingkan merek Barat. Kemampuan beradaptasi inilah yang tidak dimiliki merek-merek Barat. Kekakuan mereka untuk berfokus di satu produk saja merupakan peluang bagi merek-merek Jepang. Bayangkan perusahaan seperti Yamaha yang memproduksi alat musik bisa masuk ke sektor otomotif. Merek Sharp yang tadinya membuat pensil, kemudian masuk ke elektronik dan komputer. Sony yang sudah kuat dengan elektronik masuk juga ke industri rekaman dan seluler. Kotler bahkan pernah mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang sering over-stretching. Maunya melebar ke mana-mana. Berbeda dengan perusahaan Barat yang lebih senang menjaga fokus pada produk intinya.

Adaptasi inilah yang akhirnya membuat merek Jepang lebih unggul dalam product development. Negara-negara Barat boleh saja menjadi inovator produk. Namun, mereka sering dikatakan lambat dalam mengembangkan produk. Sementara, merek Jepang justru kaya dengan varian produk. Kebanyakan merek dari AS cenderung memanfaatkan eksklusivitas. Namun merek Jepang, Korea, dan China, punya pandangan berbeda. Mereka berpikir, jika ada sebuah produk sedang naik daun maka setiap orang di dunia ini juga harus punya! Itulah sebabnya muncul model-model dengan harga yang murah, namun punya teknologi yang hampir sama.

Salah satu keunggulan Jepang dalam hal pengembangan produk juga terlihat dari produk Jepang yang memiliki after sales terbaik. Mereka unggul dalam membuat spare part yang murah dan tersedia di mana-mana, sehingga membuat pembeli mobil bisa lebih mudah dan nyaman dalam mengganti spare part. Berbeda dengan produsen mobil di AS yang senang membuat mobil ukuran besar, produsen mobil Jepang membuat mobil ukuran kecil yang lebih ekonomis dalam segala hal.

Soal adaptasi ini juga diakui oleh banyak top management Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang. Kebebasan menjalankan strategi marketing diakui oleh Dyonisius Beti dimana global thinking act locally dijalankan dengan baik oleh Yamaha. Slogan Yamaha Indonesia (YMKI) “Selalu di depan” misalnya, adalah manifestasi dari prinsip kando yang artinya memberikan sesuatu melebihi harapan orang.

Pandangan ini berbeda dengan top management yang bekerja di perusahaan negara Barat. “Susah, semuanya harus mengikuti approval dari regional headquarter”, kata seorang top management kepada Majalah Marketing. Jangankan mengubah strategi marketing, membuat iklan saja harus meminta persetujuan kantor pusat. Perusahaan Barat di Indonesia juga cenderung memilih konsultan atau agency global dibandingkan lokal. Kepercayaan terhadap merek global rupanya lebih besar dibandingkan kemampuan mengenal pasar lokal. Seperti dikatakan oleh seorang direktur kreatif sebuah agency lokal Indonesia, mereka sulit meyakinkan perusahaan multinasional dari Amerika Serikat bahwa mereka pun punya kemampuan dibandingkan agency global.

Semangat untuk melebur di pasar lokal juga membuat merek-merek Jepang, Korea, dan China, seperti dianggap merek sendiri di Indonesia. Mereka menerjunkan pasukan sales lokal ke pasar-pasar tradisional, berkomunikasi dengan bahasa lokal, dan membangun komunitas dengan gaya lokal. Seperti dilakukan oleh Yakult. Merek ini memanfaatkan para ibu rumah tangga untuk menjadi Yakult Ladies yang mendistribusikan merek ini di pasar rumah tangga. Misi Minoru Shirota, pendiri Yakult, adalah memberikan kesehatan bagi semua orang lewat pencernaan. Itulah sebabnya Yakult sudah terpenetrasi di lebih dari 70 ribu toko dengan 1.200 Yakult Ladies. “Kami selalu berkomunikasi secara rutin dengan konsumen dan ritel,” kata Antonius Nababan, Deputy Marketing Director Yakult Indonesia.

Kedekatan dengan konsumen akhirnya juga membuat merek Jepang, Korea dan China tidak terlalu terpaku pada urusan riset yang mendalam. Dulu banyak yang mengatakan bahwa pemasar Jepang, Korea, dan China, lebih menggunakan intuisi dibandingkan riset pemasaran. Padahal tidak juga. Intuisi terasah karena riset mereka dilakukan dengan cara terjun dan memahami langsung kondisi konsumen mereka. Angka-angka dan pengujian-pengujian statistik selalu diminta oleh para pemasar negara Barat sebelum mengambil keputusan. Sementara marketer dari Jepang cenderung menambal kualitas data dengan pengalaman mereka di lapangan. Metode consumer insight dan etnografi yang justru sedang disukai oleh pemasar merek Barat sebenarnya sudah dilakukan oleh mereka.

Persaingan Senioritas
Akan halnya Korea, negara ini memang mirip dengan Jepang. Sebagian orang bahkan menilai bahwa orang Korea lebih spartan dibandingkan Jepang. Namun, Andre Wenas menepis anggapan ini. “Kesan yang tertangkap bangsa Korea ini lebih spartan, padahal ini karena Jepang sudah melewati fase itu”, kata Andre.

Jepang dan Korea memiliki ciri-ciri yang sama, sekalipun keduanya sering tidak mau disamakan. Bahkan dalam berkantor, perusahaan Jepang dan Korea tidak mau saling bersebelahan atau satu gedung. Korea mengikuti Jepang di tahun 1975-an. Mereka datang belakangan dengan nasionalisme yang tinggi, dan tidak mau kalah dengan orang Jepang. Menurut Bob, semangat orang Korea disebut sebagai hahn, yang menggerakkan orang bersemangat, memiliki pendidikan, kerja keras sampai pengorbanan demi peningkatan kualitas hidup keluarga dan negara.

Persaingan Jepang dan Korea ini memang seperti persaingan senioritas, karena Jepang sudah hadir lebih dulu. Masalah senioritas memang kuat di kedua negara ini. Mereka menghargai senioritas atas dasar pengalaman. Mereka juga menjadi malu jika tidak bisa bekerja dengan baik, sekalipun sudah senior. Itulah sebabnya kedua negara ini berlomba-lomba karena mereka tidak mau dipermalukan. Mereka membuat produk yang berkualitas karena tidak ingin konsumennya kecewa. Mereka cenderung low profile sebelum produk mereka benar-benar berkualitas di masyarakat. Ini terjadi dengan merek Samsung atau LG yang setelah bertahun-tahun bergelut dengan teknologi baru lebih percaya diri untuk “memamerkan” produk mereka.

Seperti dikatakan oleh Harold Hutabarat, Marketing Director Samsung Electronics Indonesia, filosofi bisnis di Samsung sederhana, yakni mencurahkan sumber daya manusia dan teknologi untuk menciptakan produk dan jasa yang luar biasa. Itulah sebabnya, dibandingkan kantor perwakilan merek Barat yang bersekat-sekat, kantor perusahaan merek Korea lebih terbuka untuk bisa mempercepat pengambilan keputusan. Kecepatan menjadi pemicu Samsung untuk mengeluarkan produk-produk baru di pasar yang lebih pas untuk kehidupan masyarakat.

“Para pemimpin kami mencari orang-orang terhebat dari seluruh dunia dan memberi mereka sumber daya yang diperlukan untuk melakukan yang terbaik di bidangnya. Hasilnya, semua produk kami—dari cip memori hingga telepon seluler—semuanya memiliki kekuatan untuk memperkaya hidup. Itulah makna dari menciptakan masyarakat global yang lebih baik,” tambah Harold lagi.

China Mengambil Alih?
Agak berbeda dengan Jepang dan Korea yang malu kalau produknya punya kualitas jelek di mata konsumen, marketer asal China boleh dibilang lebih tidak malu jika produknya masih mempunyai masalah. Kehadiran merek China sudah mulai menghebohkan pada saat motor-motor China (mocin) hadir di Indonesia. Seperti kerikil yang mengganjal kaki merek-merek Jepang yang sudah eksis, kehadiran mocin memang sempat membuat merek-merek motor Jepang kegerahan. Namun seperti Tsunami, akhirnya merek mocin ini pun hilang tersapu di pasar.

Kelemahan merek China di mata konsumen memang soal kualitas. Mereka memproduksi barang-barang dengan harga murah dan kualitas rendah, serta dukungan after sales service yang lemah. Itulah sebabnya sulit mengubah mindset terhadap merek China dalam soal yang satu ini, dibandingkan merek Korea dan Jepang.

Namun, itu bukan berarti bahwa merek China tidak mendapatkan hati konsumen Indonesia. Kedahsyatan merek China untuk mengkloning produk-produk yang sedang hit di pasaran membuat merek China mudah berpenetrasi dengan cepat ke konsumen. Kekuatan mereka memakai pihak ketiga untuk bermain juga merupakan bagian dari budaya ce lie yang memanfaatkan strategi pada setiap kesempatan. Seperti ponsel-ponsel China, mereka justru terpasarkan dengan baik oleh para operator seluler. Melalui program bundling, merek seperti Nexian, ZTE atau Huawei bisa dinikmati oleh konsumen di Indonesia.

Bob sendiri menilai, China sangat inovatif dalam soal biaya. Mereka pintar mencari biaya rendah dengan teknologi yang canggih. Akan halnya mutu, mereka kini juga mulai belajar untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Seperti halnya prinsip kaizen dan genchi genbutsu, mereka memilih mencari jawaban dengan cara terjun sendiri ke lapangan dan melakukan perbaikan terus-menerus.

Budaya Indonesia
Lalu bagaimana dengan budaya Indonesia sendiri, apakah bisa menjadi budaya yang kuat dalam memasarkan produk? Menurut beberapa praktisi marketing, budaya Indonesia jika digabungkan dengan budaya Jepang, Korea, dan China, sebenarnya bisa membantu kesuksesan produk. “Kalau soal touching your heart, orang Indonesia lebih mengerti. Apalagi kita memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan orang asing,” kata Dyon.
Demikian halnya di Samsung, menurut Willy Bayu Santosa, Head of Corporate Marketing Samsung Electronic Indonesia, nilai budaya lokal pun tidak menutup kemungkinan untuk dicampuradukkan dengan budaya Korea. “Nilai budaya gotong-royong kita wujudkan dalam kegiatan corporate social responsibility saat melakukan aksi peduli”, ungkap Willy memberi contoh.

Andre Wenas juga mengakui ada banyak keunggulan budaya kita yang sebenarnya bisa menjadi spirit dalam fondasi bisnis jika dilakukan dengan benar. “Semangat gotong-royong adalah cikal bakal teamwork yang bisa menandingi komunalismenya orang-orang Jepang dan Korea. Peribahasa Jawa yang mengatakan “alon-alon asal kelakon” sebetulnya secara positif adalah semangat kaizen, continuous improvement, detail-rinci dan ketekunan serta kesabaran. Tidak potong kompas, asal-asalan dan akhirnya korupsi. Artefak-artefak budayanya pun sangat kaya, tari pendet, lagu-lagu daerah, seni ukir, batik, candi-candi, maupun bangunan-bangunan, atau situs-situs kontemporer hasil karya anak bangsa. Semuanya dihasilkan oleh kreativitas yang tinggi.

Advertisements

Pertimbangan Utamanya Dekat & Murah


Mudah dijangkau atau dekat dengan rumah serta harga yang murah adalah dua hal yang menjadikan Alfamart, Carrefour dan Indomaret dipilih oleh konsumen sebagai tempat yang paling sering dikunjungi untuk berbelanja di supermarket/hipermarket. Di samping tentunya karena banyak pilihan dan tempatnya nyaman. Demikian laporan yang terungkap dari hasil survei yang dilakukan SurveyOne belum lama ini.

Survei yang melibatkan 1.400 responden di empat kota besar (Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar) ini menyingkap apa yang menjadi faktor terpenting dalam pemilihan jasa untuk beberapa kategori. Menarik dicermati bahwa untuk jasa yang dikunjungi secara rutin, konsumen lebih mempertimbangkan masalah lokasi. Pertimbangan utama akan berbeda bila jasa itu tidak dibeli atau dikunjungi secara rutin semisal penerbangan atau asuransi.

Jika supermarket adalah tempat aktivitas rutin berbelanja, maka bank adalah tempat aktivitas rutin yang berhubungan dengan keuangan. Maka dari itu, tak heran jika BRI, BCA, Mandiri dan BNI adalah deretan nama bank yang paling banyak dipilih konsumen untuk menyimpan uangnya. Jarak yang dekat dengan rumah adalah pertimbangan konsumen untuk memilih bank. Dibandingkan bank lainnya, keempat bank tersebut memang memiliki jaringan cabang paling luas yang menyebar hingga ke setiap sudut kota, sehingga memudahkan konsumen untuk mengunjunginya.

Namun, konsumen tidak hanya melihat kedekatan lokasi sebagai pertimbangan utama. Ada juga yang memperhatikan kualitas pelayanan serta bank yang terpercaya sebagai faktor terpenting dalam memilih sebuah bank. Bagusnya, faktor ini juga sudah dimiliki dengan baik oleh keempat bank tersebut.

Sementara itu, penerbangan adalah jasa yang tidak rutin digunakan oleh sebagian besar konsumen. Ditambah lagi dengan daya beli konsumen Indonesia yang relatif masih rendah hingga saat ini. Karenanya, kebanyakan penumpang pesawat lebih mengutamakan faktor harga tiket yang murah. Faktor ini menempati urutan teratas melampaui faktor pelayanan yang baik, bahkan faktor keamanan.

Dalam hal jasa penerbangan, Lion Air paling banyak dipilih oleh penumpang Indonesia. Maklum, maskapai ini memang dikenal sebagai pelopor tarif murah di Indonesia. Dengan melakukan efisiensi di berbagai pos pengeluaran, termasuk tidak memberikan makanan bagi penumpang seperti yang dilakukan maskapai lainnya, Lion Air mampu menawarkan tarif terjangkau bagi masyarakat luas.

Tidak ingin terbawa arus persaingan tarif murah, Garuda Indonesia mencoba bertahan dengan strategi pelayanan yang lebih baik. Sebab, tidak semua penumpang Indonesia asal pilih pesawat yang murah. Masih banyak penumpang yang lebih memperhatikan faktor pelayanan dan keamanan. Strategi ini ternyata cukup efektif sehingga masih banyak konsumen yang memilih Garuda untuk jasa penerbangan. Garuda menempati urutan kedua setelah Lion Air sebagai penerbangan yang paling banyak dipilih.

Sama halnya dengan jasa penerbangan, rumah sakit bukanlah tempat untuk dikunjungi secara rutin. Umumnya masyarakat Indonesia berasal dari kelas sosial ekonomi menengah-bawah, karena itu faktor biaya menjadi pertimbangan utama dalam memilih rumah sakit. Tapi, lantaran kondisi darurat agar pasien cepat tertangani, maka banyak juga konsumen yang lebih mengutamakan jauh-dekatnya lokasi rumah sakit. Sementara itu, fasilitas dan pelayanan yang diberikan rumah sakit cuma diperhatikan oleh konsumen tertentu sebagai faktor terpenting dalam memilih rumah sakit.

Selanjutnya, hingga saat ini asuransi belum menjadi kebutuhan vital bagi sebagian besar konsumen Indonesia. Kondisi itu tampak jelas dari masih kecilnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia. Kalau toh memiliki produk asuransi, kebanyakan itu bukan karena kesadaran sendiri. Ini terlihat dari jawaban responden yang lebih banyak menyebut dari kantor sebagai alasan memilih asuransi. Artinya, asuransi yang mereka miliki merupakan fasilitas dari kantor.

Premi yang murah juga merupakan faktor terpenting dalam memilih asuransi, disusul oleh faktor terpercaya dari asuransi yang bersangkutan. Di sini, Bumiputera dan Jamsostek bisa menempati urutan teratas sebagai asuransi yang paling banyak dipilih konsumen. Karena Bumiputera memiliki premi yang terjangkau oleh sebagian besar konsumen; sedangkan Jamsostek, hampir semua perusahaan mengasuransikan karyawan atau buruhnya dengan asuransi ini.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa konsumen dalam memilih sebuah jasa sering kali tidak berdasarkan karena merek terkenal. Justru kemudahan dalam mendapatkan jasa itu serta harga terjangkau yang dijadikan pertimbangan utama. Oleh karena itu, agar bisa dipilih oleh konsumen, maka jasa tersebut tidak cukup hanya bermodalkan brand awareness, tetapi juga tingkat availibility yang tinggi sehingga memudahkan konsumen untuk mendatanginya. Apalagi jika hal ini ditunjang pula dengan harga yang terjangkau.

Sop Buntut Legendaris


Awalnya tanpa brand. Setelah dikenal orang, mulai bikin brand. Tapi tetap saja tanpa promosi. Hanya mengandalkan word of mouth. Lantas, bagaimana mereka mengemas produknya sehingga mendapatkan pelanggan yang loyal?

Tahun 1978, sop buntut hanyalah salah satu menu standar di Hotel Borobudur Jakarta. Tahun 1981, saat Ani Susilowati masuk sebagai waitress, sop buntut itu diceritakan sudah populer. “Setahu saya, saat itu hanya di sini ada sop buntut berkelas hotel di Jakarta. Waktu itu memang belum banyak hotel di Jakarta,” ingat Ani yang sekarang telah duduk di jabatan puncak sebagai Food & Beverage Director itu.

Sampai dengan 1995, sop buntut di Bogor Café tersebut tetap saja belum punya brand. Padahal sudah dikenal di mana-mana. Saat itu Hotel Borobudur ditutup karena menjalani renovasi total. Praktis, sop buntut itu ikut hilang dari perbincangan. Tahun 1997 renovasi selesai. Bogor Café kembali dibuka. Sop buntut kembali disajikan. Barulah mulai muncul ide untuk memberi nama pada menu favorit tersebut. Disepakatilah sejak saat itu nama “Sop Buntut Legendaris”. Hingga sekarang, ketika disebut nama itu, orang akan selalu merujuk pada sop buntut Hotel Borobudur.

Kisah serupa terjadi pada Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli). Seperti dituturkan Pak Sadi kepada MARKETING, baru tahun 1989, ia memberi merek pada soto yang telah mulai dijualnya sejak tahun 1960 itu. Pak Sadi mulai berjualan di tanah kelahirannya, Lamongan, Jawa Timur, ketika ia masih berumur 18 tahun. Ia sendiri hanya jebolan kelas 5 SD.

Nama Ambengan diambil karena ketika pertama kali berjualan soto, tahun 1971, ia memilih lokasi di Jalan Ambengan. Maka, ketika membuka cabang di Jakarta tahun 1989, digunakanlah nama itu. Di Jakarta, telah empat kali Pak Sadi berpindah lokasi. Namun, semuanya tetap di ruas Jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru. Hanya bergeser lokasi dari nomor 24 ke 47, pindah ke nomor 30, hingga tiga tahun terakhir menempati sebuah rumah kontrakan di nomor 28.

Ada beberapa kesamaan pada kedua resto ini. Dari sisi produk, keduanya merupakan makanan khas Indonesia. Strategi promosi keduanya juga hanya mengandalkan word of mouth. Malah, belakangan Sop Buntut Legendaris tak lagi ditonjolkan. Kalau pun banyak pelanggan yang mencari sop buntut itu, pihak restoran mengarahkan pelanggan untuk membeli paket buffet, di mana di dalamnya termasuk Sop Buntut Legendaris.

Kesamaan lain, kesadaran menorehkan brand baru dilakukan setelah produk tersebut laku. Tidak dipersiapkan sedari awal. Seperti diakui keduanya, tidak ada kesengajaan secara marketing untuk menjadikan produk itu unggulan. Semua mengalir begitu saja.

Angka penjualan yang mereka catatkan pun menakjubkan. Dengan harga per porsi Rp56.000, setiap harinya rata-rata Sop Buntut Legendaris terjual sebanyak 500 mangkok, atau sama dengan 200 kg buntut sapi. Sedangkan Pak Sadi minta angka penjualan soto ayamnya yang per mangkok dijual Rp12.000 itu tidak dipublikasikan. “Takut didatangi petugas pajak lagi,” kilahnya. Inilah yang membedakan “kelas” mereka.

Perbedaan juga ada pada pengadaan barang. Semua buntut yang disajikan di Hotel Borobudur diimpor dari luar negeri. Sedangkan ayam untuk soto Pak Sadi didapatkan dari pasar lokal. “Kekhasan kami ada pada koya-nya, yakni kombinasi bawang putih dan krupuk udang (bukan pada ayamnya),” ungkap Pak Sadi. Sedangkan kekhasan sop buntut legendaris ada pada buntutnya. “Ketika ada wabah sapi gila, kami pernah coba pakai buntut lokal. Ternyata tidak cocok,” tutur Ani menjelaskan alasan memilih buntut impor. Di samping produknya, keduanya sama-sama memiliki kunci untuk menjaga kelezatan hidangan, yakni loyalitas kokinya.

Dengan cara itulah mereka mendapatkan pelanggan loyal, yang menjadi konsumen mereka sejak lama dan sulit berpaling ke tempat lain. Ke depan, Sop Buntut Legendaris akan tetap dipertahankan sebagai makanan tradisional berkelas hotel, sedangkan Soto Ayam Ambengan tetap dipertahankan sebagai makanan kelas rumah makan meski dengan pelanggan kelas menengah atas.

Strategi jitu menarik pelanggan dari luar pagar


Restoran di dalam area wisata memang punya banyak tantangan. Dulunya banyak orang yang tidak masuk ke Ancol hanya sekadar untuk makan. Akibatnya restoran jadi sepi pada saat hari biasa. Tapi Bandar Djakarta mencoba membalikkan fakta tersebut. Bagaimana caranya?

Membesarkan resto di kawasan wisata tidaklah mudah. Apalagi resto-resto lain bertebaran dan mudah diakses. Tapi, Bandar Djakarta sukses menggarap pasar ini. Siapa yang tidak senang melihat gerai makannya disambangi banyak tamu? Apalagi melihat dari tahun ke tahun, gerai makanannya terus berbenah dan menjadi destinasi kuliner banyak orang.

Hal ini dialami oleh Wendy Santosa saat gerai makannya dikunjungi banyak orang siang itu. Wendy Santosa adalah salah satu dari pendiri resto Banda Djakarta—sebuah resto makanan laut yang terletak di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Ada sensasi tersendiri apabila kita makan di di tepi pantai– kita akan mendengar derai semilir angin, alunan gelombang air pantai serta aroma bau pasir laut yang khas, serta dihiasi oleh pemandangan kapal-kapal, kereta gantung yang tampak di kejauhan dan deretan rumah apik milik Putri Duyung Cottage – menjadikan resto yang terletak di bibir Teluk Jakarta ini terkesan unik. Suasana pelabuhan di Pantai Karnaval ini memang sengaja diciptakan di resto ini. Cocok sekali dengan namanya, Bandar Djakarta.

Kesuksesan Bandar Djakarta tidak jatuh dari langit. Membangun bisnis makanan tidaklah mudah. Mengingat letak Bandar Djakarta yang berada di dalam Kawasan Ancol yang tidak mudah terjangkau oleh pengunjung—bila dibandingkan dengan resto lain di pinggir jalan. Ini diakui Wendy Santosa, pada awal membangun resto berkonsep pelabuhan ini. Dengan patungan modal bersama tiga rekannya—Sunarja Lesmana, Hans Setyabudi, dan Anton Cahyono. Resto ini dibangun pada 21 Desember 2001.

Dulu resto Bandar Djakarta ini berdiri di areal seluas 250 meter persegi, berada di kawasan foodcourt Taste of Asia milik Ikang Fawzi. Namun, ketika, Taste of Asia tutup, Bandar Djakarta berupaya beroperasi sendiri. Kini luasnya menjadi 3.000 meter persegi. Dari kapasitas tempat duduk hanya 80 orang, kini berkembang menjadi 1.400 orang.

Kendala besar yang dihadapi Wendy adalah problem tempat. Dulu orang tidak pernah berikir untuk makan di kawasan wisata Ancol. Karena, di luar, banyak sekali gerai makan bertebaran dengan sajian menu yang lebih bervariasi. Untuk menuju resto saja harus bayar pintu masuk Kawasan Ancol. Tentunya, ini menjadi halangan psikologis tersendiri bagi para tamu. Sementara itu, mengandalkan pengunjung kawasan wisata tentu tidak optimal.

“Ini yang menantang kami. Kami pun melakukan berbagai edukasi terus-menerus. Salah satunya melalui iklan di radio. Kami sadar kuncinya tetap ada di servis dan kualitas menu. Kalau ini sudah bisa dicapai, marketing akan jalan sendiri dengan word of mouth. Kami membutuhkan waktu empat tahun untuk mengubah image tersebut,” kenang Wendy.

Kemitraan dengan Ancol menjadi penting. Pengelola resto ini pun akhirnya menggelar program untuk mengubah image Ancol tidak sekadar destinasi wisata. Tapi, juga destinasi kuliner. Apalagi, peluang sebagai resto makanan laut di Ibukota masih cukup besar. Selain itu, untuk merebut perhatian konsumen, Banda Djakarta menerobos dengan berbagai konsep unik. Salah satunya adalah membangun pasar ikan di lingkungan restoran. Ini yang menurut Wendy menjadi pembeda dengan resto-resto seafood lainnya.

Jangan bayangkan pasar ikan ini dengan pasar super padat, sekaligus becek, dipenuhi bau amis dan lalat. Pasar ikan ini menyatu dengan bagian resto. Pasar ikan ini digelar dengan penataan yang rapi, sekaligus artistik – yang difungsikan untuk memudahkan pelanggan memilih jenis ikan mana yang mau mereka makan. Di pasar ini, pelanggan bebas memilih aneka macam ikan, kerang, dan binatang laut lainnya yang siap diolah.

Konsepnya resto Bandar Djakarta mengolah menu ikan segar. Bahan baku langsung didatangkan dari pelabuhan. Untuk pemeliharaannya, digunakan es sebagai pengawet. Suasananya benar-benar seperti halnya dermaga. “Pasar ini membuat pelanggan dihadapkan pada banyak pilihan, sehingga membuat orang ingin mencobanya semua,” kata Wendy.

Untuk menarik peminat, Bandar Djakarta menggelar pesta diskon 50% setiap Senin hingga Kamis. Setiap Senin ada diskon untuk kepiting. Diskon udang paru setiap Selasa. Ikan kue setiap Rabu. Cumi setiap Kamis. “Pesta diskon ini kami adakan sampai sekarang,” tandas Wendy.

Selain itu, tamu yang butuh hiburan pantai disediakan perahu khusus. Rutenya sekitar Pantai Karnaval. Tarif perahu Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu tergantung jumlah penumpang. Jadi Bandar Djakarta tidak hanya menjual makanan saja, tapi juga menjual suasana.

“Kita memang tidak hanya menjual makanan. Tapi, juga suasana. Kami ingin agar pelanggan di sini tidak mudah lupa dengan Bandar Djakarta. Saya setuju dengan konsep experiential marketing,” imbuh Wendy.

Wendy menambahkan keunggulan resto ini tak lain adalah servis yang cepat. Paling lama sekitar 20 menit, menu makanan yang dipesan dipastikan sudah mendarat di atas meja. Di bagian tengah resto yang sebagian besar didominasi oleh bangunan dari kayu itu ada sebuah bar kecil. Namanya Bar Si Pitung. Pelanggan bisa memesan aneka minuman dari bar ini. Para bartender pun dengan sigap melayani. Di sana juga disediakan satu petak untuk konser live music. Setiap malam, para pengunjung bisa menikmati alunan berbagai musik itu. Bahkan, pengunjung bebas diberi kesempatan untuk turut bernyanyi. Banda Djakarta juga menyediakan paket outdside catering—menyuplai makanan untuk pesta di luar resto.

Selain itu, Banda Djakarta juga menyediakan layanan paket perayaan, seperti ulang tahun, pernikahan, dan sebagainya. “Kami memang menyasar para keluarga. Bangunan kami desain sedemikian rupa agar menciptakan suasana kekeluargaan ini. Kami tidak mau bermain desain mewah agar tidak terkesan mahal,” katanya.

Dari sisi menu, Bandar Djakarta tidak kalah bersaing dengan resto-resto lainnya. Mereka mencoba berinovasi dengan menggunakan private label. Contohnya, Bandar Djakarta memproduksi saus-saus sendiri. Seperti Saus Jali-Jali, Saus Bandar Djakarta, Saus Teluk, dan sebagainya.

Saus itu sangat cocok menemani menu makanan seperti yang kami coba saat itu adalah satu piring kepiting lada hitam dalam ukuran besar. Satu piring berisi kerang macan yang bergelimangan dalam saus padang. Satu piring berisi enam potong udang pacet besar dalam luluran saus teluk. Satu piring calamari goreng tepung. Satu piring berisi roti mantau yang enak dimakan bila dicocolkan dengan saus padang atau saus lada hitam. Satu bakul nasi putih. Satu piring berisi lalapan.

Semua sajian langsung mencekik lidah kami untuk segera menyantapnya. Apalagi aromanya mulai menggoda. Kepulan asap dari sajian yang masih panas itu langsung mengundang selera kami untuk segera menyantapnya.

Bicara soal harga, cukup rasional. Untuk ala carte rentang harganya Rp 12.000/kg sampai Rp 630.000/kg. Untuk paket buffet berkisar Rp 40.000-Rp 80.000 per orang. Anda tidak usah khawatirb dengan harga karena Bandar Djakarta menyediakan diskon. Apalagi menu satu porsi lauk bisa cukup di makan untuk 2-3 orang.

Soal omzet, Wendy belum mau menyebutkan. Namun, bisa dihitung sendiri. Menurut Wendy, volume pengunjung untuk weekdays sekitar 1.000 orang. Sementara di weekend, volumenya dua kali lipat. Nah, bila setiap orangnya, katakanlah membayar Rp 20 ribu saja, omzet setiap harinya bisa mencapai Rp 20-40 juta.

Usai sukses menggarap Jakarta, Bandar Djakarta berencana mengekspansi ke daerah Serpong. “Konsepnya sama. Di sana, juga ada saung-saung. Letaknya cukup strategis, yakni di Alam Sutera. Pasarnya juga lumayan besar sesuai survei kami,” kata Wendy optimistis

Bukan Sekadar Dapur Makanan


Dapur Solo percaya kepuasan konsumen tidak hanya terletak pada makanan, tapi juga pada value. Apa saja yang mereka tawarkan kepada pelanggan?

Jakarta tidak saja penuh dengan manusia atau kendaraan bermotor, tetapi juga penuh dengan tempat kuliner. Coba saja Anda menyusuri setiap sudut jalan di ibu kota. Anda bisa dengan mudah menemukan banyak tempat kuliner yang menawarkan beraneka menu. Salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi adalah Dapur Solo yang terletak di daerah Sunter, Jakarta Utara.

Dapur Solo, yang tak pernah sepi dari pengunjung ini, menawarkan hidangan berupa masakan-masakan tradisional Jawa, khususnya masakan Solo. Merunut sejarah berdirinya, Dapur Solo dimulai dengan suatu ketidaksengajaan yang diawali dari usaha kecil-kecilan. Adalah ide dari Swandani Kumarga, yang akrab dengan panggilan Swan, untuk memulai usaha kecil di garasinya dengan berjualan jus dan rujak.

Saat itu, omzet dari usaha kecil ini tidaklah banyak. Mungkin berkisar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per hari. Oleh karena itu, Swan harus memutar otak dan mencurahkan semua idenya untuk mengembangkan usahanya ini. Pada tahun 1990, dengan segenap semangat bekerja dan entrepreneurship-nya, dia menyewa satu ruko dan membuka sebuah rumah makan yang kemudian dinamai dengan Rumah Makan Solo. “Dalam membangun rumah makan ini, saya memulainya dari awal, dengan modal keberanian,” tutur Swan.

Awalnya Rumah Makan Solo ini dikelola dengan manajemen yang masih sangat sederhana. Sejalan dengan waktu, rumah makan ini semakin lama semakin didatangi oleh banyak pengunjung. Sampai kemudian Swan ingin mengembangkan bisnis ini dengan lebih serius. Kemudian pada tahun 2005, sang suami, Heru Kumarga, turut bergabung untuk ikut mengelola rumah makan ini. “ Saya melihat adanya peluang yang sangat bagus dari pasar ini. Apabila rumah makan ini bisa dikelola lebih profesional, tentunya bisa berkembang lebih bagus,” jelas Heru. “Pembenahan ini sebenarnya sudah kami sudah mulai sejak krisis moneter,” imbuhnya.

Salah satu hal penting yang dilakukan oleh suami istri ini adalah melakukan re-branding. Menurut Heru, rumah makan ini harus melakukan re-branding. Setelah meninjau kembali brand mereka, ternyata Rumah Makan Solo tidak bisa diambil hak mereknya, sehingga mereka perlu melakukan re-branding dengan nama baru Dapur Solo. Swan mengatakan, “brand baru ini digunakan tanpa harus menghilangkan unsur brand lama, karena sama-sama menggunakan kata Solo, sehingga customer tetap aware dengan keberadaan kami.”

Selain melakukan re-branding, Dapur Solo juga melakukan perbaikan manajemen di segala aspek. Mulai dari standar kualitas masakan, restrukturisasi manajemen, sampai dengan pengembangan sumber daya manusia. Awalnya memang tidak mudah, karena membutuhkan adaptasi yang cukup lama. “Saya tak tahu-menahu tentang seluk-beluk teori manajemen, sedangkan suami saya memang sudah mempunyai latar belakang manajemen, sehingga saya harus bisa menyesuaikan diri, “ kata Swan. “Contohnya sewaktu adanya standarisasi resep. Awalnya menurut saya aneh, tapi ternyata ini membuat kerja saya jadi lebih efisien,” lanjutnya.

Menurut Heru, hal yang tak kalah penting adalah edukasi pasar. Konsumen harus merasakan terlebih dahulu produk yang mereka miliki. Contohnya saat launching menu Selat Solo. Banyak orang bingung dengan produk baru ini, tapi edukasi harus terus dilakukan sampai konsumen mengenalnya. Edukasi pasar ini tidak mudah, butuh waktu bertahun-tahun. Selain karena Selat Solo adalah produk yang cukup asing, juga rasa yang kurang familiar bagi konsumen perkotaan.

Rumah makan yang sudah bisa meraup omzet Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per hari ini mempunyai positioning sebagai rumah makan untuk makanan tradisional Jawa. Swan mempunyai keinginan untuk mempopulerkan makanan tradisional Jawa, terutama yang berasal dari Solo. Dapur Solo juga memposisikan diri sebagai bukan makanan murah dan bukan makanan yang mahal. Dengan harga rata-rata Rp 20 ribu-an ke atas, strategi ini cukup berhasil karena bisa menjembatani dua segmen pasar, yaitu kelas menengah dan kelas atas.

Masakan Jawa tidak selalu cocok di lidah konsumen di Jakarta. Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi rasa supaya bisa diterima oleh selera masyarakat di perkotaaan. “Semua melalui berbagai uji coba rasa, kemudian kami menawarkan kepada pasar, dan merekalah yang menentukan akan menerima menu kami atau tidak. Ternyata produk kami ini diterima oleh pasar dengan baik,” tutur Swan.

Tidak hanya bertumpu pada makanan, Dapur Solo juga mengutamakan pelayanan pada pelanggan. Menurut Heru, servis terhadap tamu sangat penting karena Dapur Solo sangat mengapresiasi konsumen dan pelanggan. Ini merupakan customer touch point. Melalui sapaan-sapaan yang diberikan kepada pelanggan, mereka bisa dibuat nyaman dan homy. Customer tidak hanya sebagai customer, tapi juga sebagai teman. Di sini Dapur Solo tidak hanya menyediakan makanan, tapi juga menyediakan experiential marketing melalui keramahan dan pelayanannya.

Sebagai owner Dapur Solo, Swan dan Heru sangat mengutamakan value bagi para pekerjanya. Karyawan merupakan SDM yang banyak bersentuhan langsung dengan pelanggan, maka sangat layak apabila mereka mendapatkan bekal melalui pelatihan-pelatihan. Di Dapur Solo ini akan selalu terjadi transfer value bagi para karyawan supaya mereka bisa lebih berkembang. “Melalui value itu owner dan karyawan mempunyai tujuan yang sama, sehingga hal ini bisa meningkatkan hasil kerja mereka.”

Bakmi Raos Berani Melakukan Evolusi


Bakmi Raos tumbuh dari garasi rumah dengan modal yang terbatas. Sekarang ini, mereka sudah memiliki ratusan outlet dan mulai menelurkan brand-brand restoran baru.

Dalam memilih usaha, banyak pilihan yang ditawarkan tergantung minat dan keteguhan sikap si pelaku usaha dalam menjalani usahanya itu. Dalam masyarakat Indonesia, usaha kuliner menjadi salah satu pilihan menarik untuk dijalani, walaupun memilih bisnis makanan yang tepat bukanlah perkara mudah.

Salah satu bisnis makanan yang banyak dipilih orang adalah usaha bakmi. Sebagai negara nomor dua pengonsumsi mi terbesar di dunia—setelah Cina, tentunya potensi berbisnis berbasis bakmi di Indonesia sangat besar. Tetapi, perlu disadari juga bahwa bisnis ini sudah jenuh dengan banyak pemain. Untuk itu, perlu adanya diferensiasi kuat pada produk mi yang diperdagangkan.

Fenomena yang cukup menarik adalah Bakmi Raos. Merek usaha bakmi yang dikelola oleh PT Raos Aneka Pangan ini memiliki keunggulan dibanding restoran-restoran bakmi lain, terutama soal rasa serta konsep yang ditawarkan. Kesuksesan Bakmi Raos sekarang ini ditandai dengan jumlah cabang yang cukup banyak, setelah melewati beberapa proses dalam berusaha. “Cerita di balik suksesnya Bakmi Raos tidak seindah yang dibayangkan atau diceritakan orang pada umumnya,” kata H. Bimada, Direktur PT Raos Aneka Pangan.

Saat ditemui di kantornya di bilangan Bintaro, Bimada bertutur tentang jatuh bangun usahanya ketika mendirikan bisnis Bakmi Raos atau Cippes Resto hingga mencapai kondisi saat ini. Berawal dari tiga gerobak hingga kemudian berkembang menjadi ratusan buah. Pengembangan Bakmi Raos lewat waralaba dilakukan sejak tahun 2006 dengan konsep menjual gerobak dan memberikan angsuran kredit ringan kepada franchisee. Tantangan yang dihadapinya saat itu adalah mendapatkan calon franchisee yang bermental pekerja keras dan berkomitmen pada usaha kuliner bakmi.

Bimada bercerita pula bahwa semua berawal dari hobi memasak yang tak pernah dilewatkannya. Hobinya itu sekarang bisa menjadi mesin uang yang menggiurkan. Bimada memulai usaha bakmi ayamnya di garasi rumahnya di kawasan Bintaro pada Juni 2003. Modal awal hanya Rp 10 juta, tapi kini PT Raos Aneka Pangan memiliki aset sekitar Rp 250–500 juta. Omzet usaha per tahun mencapai Rp 1–3 miliar. Warung di garasi pun kini menjelma menjadi sebuah kantor perusahaan yang menaungi brand utamanya, Bakmi Raos. Selain itu, ada brand lain yang ditawarkan, yaitu Cippes Resto. Kemampuan Bimada mengelola dan membesarkan bisnis mengantarnya menjadi salah satu penerima “Dji Sam Soe Award 2006”.

Kemudian, sejak pertengahan tahun 2009, Bakmi Raos mulai meninggalkan konsep gerobak yang pernah booming. Merek ini berani melakukan evolusi dengan membangun konsep usaha kuliner berbentuk restoran yang memiliki siklus hidup lebih lama dibanding ala gerobak. Tentunya, juga sangat sesuai dengan tren gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini yang suka dengan kuliner. Tak disangka, konsep restoran Bakmi Raos mendapat sambutan di daerah luar Jakarta, terutama di luar Jawa. Break even point-nya juga lumayan cepat dan keuntungan yang diraih per bulannya pun cukup menggiurkan.

“Berdasarkan pengalaman, konsep gerobak itu booming saat awalnya saja. Tetapi, setelah dua atau tiga bulan sudah tidak ada peminatnya lagi, sedangkan konsep restoran memiliki siklus hidup yang lama dan sangat sesuai dengan tren gaya hidup masyarakat kita,” kata Bimada yang pernah menjadi direktur di salah satu perusahaan freight forwarding & shipping.

Lebih lanjut diungkapkan, ada perbedaan segmen yang dibidik serta “penampilan” dalam hal penyajian menu serta atmosfer restoran antara Bakmi Raos dan Cippes Resto.

Bakmi Raos cenderung membidik pasar menengah bawah, sementara Cippes Resto membidik kalangan menengah atas. Konsep penyajian menu makanannya pun berbeda. Dan tentu saja, omzet yang didapat pun berbeda-beda, sesuai lokasi. Bimada mengatakan bahwa ke depannya ia membuat satu brand lagi yang akan diwaralabakan, yaitu Damas Boutique Resto, yang membidik segmen atas.

Usaha waralaba Bakmi Raos dan Cippes Resto juga memiliki keunggulan berupa tawaran kemitraan serta tawaran investasi yang bervariasi, antara Rp 15–150 juta. Sehingga, memberikan alternatif bisnis bagi para investor sesuai dengan kapasitas modal yang mereka miliki. Selain itu, waralaba Bakmi Raos dan Cippes Resto tidak membebankan biaya tetap royalti dan lama kontrak kerja. Bahkan, mereka memberikan keleluasaan konsep bisnis, hubungan yang saling menguntungkan kepada para mitra, serta didukung oleh manajemen dengan orang-orang yang berpengalaman. Franchisee juga mendapatkan pelatihan marketing, SOP, serta promosi/design gratis berupa banner/flyer. “Sekitar 60% pembeli waralaba Bakmi Raos dan Cippes resto didapat dari kemitraan yang sudah terjalin,” ujarnya.

Mengenai promosi, ia mengatakan bahwa peliputan di media massa sangat membantunya. Ditambah dengan keikutsertaan dalam pameran yang kerap dilakukan. Kemudian, mereka juga bekerja sama dengan provider telekomunikasi, seperti Flexi dan Telkomsel, untuk informasi diskon.

Saat ini, Bakmi Raos telah berkembang dengan lebih dari 360-an outlet di seluruh wilayah nusantara, kecuali Papua. Merek yang bermoto “Berani Diadu Rasanya” ini telah mengembangkan berbagai macam varian makanan, lebih dari 400-an menu makanan dan 150-an menu minuman. Bimada juga menjual bahan baku mi serta bumbunya sekitar 3.000–3.500 porsi per hari. Untuk Cippes Resto, pertumbuhan per tahun berkisar antara 1–2 outlet. Berbeda dari waralaba lain, Bakmi Raos dan Cippes Resto menjual konsep usaha kuliner dengan harga yang sangat kompetitif.

Ditambahkan Bimada, selain cita rasa yang khas, hal yang terpenting agar bisa menuai sukses di bisnis kuliner adalah adanya jiwa entrepreneurship yang kuat. “Ke depan, diharapkan brand image Bakmi Raos/Cippes Resto semakin melekat di benak masyarakat,” katanya dengan yakin

Tips Mengawali Usaha dengan Modal Kecil


Jika Anda ingin berwirausaha sebaiknya jangan terburu nafsu untuk memulainya. Dalam memulai usaha harus cermat dan akurat biar usaha Anda maju dan berkembang. Selain itu, Anda juga harus mencermati keberhasilan para pengusaha yang sudah sukses. Sehingga Anda bisa ambil pelajaran yang berguna ketika Anda menjalani usaha tersebut. Berikut ini, tips untuk memulai dan membuka usaha yang sederhana dengan modal yang tidak terlalu besar.

1. Siapkan Mental Jadi Pengusaha
Anda harus mengetahui ciri seorang pengusaha. Asal tahu saja, pengusaha berbeda dengan karyawan. Jika karyawan biasanya cenderung segera menghabiskan gaji bulanannya, Pengusaha tidak! Seorang pengusaha akan menginvestasikan kembali sebagian penghasilan yang diperolehnya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi. Maka jika Anda ingin memulai usaha, terapkanlah mental pengusaha, bukan mental karyawan.

2. Visi dan Misi Jelas
Anda harus mengetahui visi dan misi dalam berbisnis. Visi dan misi itu bisa menjadi panduan untuk melangkah. Seringkali suatu usaha, saat mulai berkembang mengalami kegagalan karena organisasi tersebut tidak memfokuskan diri kepada peningkatan kemajuan bisnis awal, tetapi terlalu banyak mencoba mengembangkan bidang usaha lain. Sabar saja, fokuskan pada satu bisnis dulu; baru kemudian jika Anda sudah sukses silahkan mau jungkir-balik bisnis apa saja boleh.

3. Bisnis itu Gampang
Sebagai calon pengusaha harus berpikiran strategis dan ‘simpel’. Bicara soal bisnis, sederhana saja. Sebagai contoh, berbisnis minuman mineral. Kita tinggal membeli sebotol minuman mineral seharga Rp 1000 dan menjualnya kembali dengan harga Rp 1500 sehinga diperoleh keuntungan Rp 500 dan jangan sampai menjual dengan harga yang lebih rendah karena akan rugi. Dengan menjual sebotol minuman mineral dan memperoleh keuntungan Rp 500, Anda sudah menjadi pebisnis. Tinggal dikalikan dan ditingkatkan kuantitas dan kualitas-nya. Intinya sederhana, targetnya adalah memperoleh laba, niscaya bisnis akan makin berkembang.

4. Jangan Takut PerModal-an
Modal acapkali dikeluhkan oleh para calon pengusaha. Mereka gusar karena kesulitan modal. Anda tentu tak perlu risau. Modal berkait erat dengan seberapa besar usaha yang akan dijalankan. Dengan modal sekitar 2-10 jutaan yang dapat rogoh dari tabungan sendiri Anda sudah bisa ‘lenggang-kangkung’ jadi pengusaha. Jadi jangan takut kesulitan modal, dengan modal cekak pun masih dapat membuka usaha. Jika masih kesulitan, Anda bisa menggandeng saudara atau bahkan kawan. Selain lebih mudah dalam menjalankan usaha, Anda tidak disibukkan dengan berbagai tagihan layaknya berhutang di bank. Akan tetapi jika Anda bertekad ingin membuka usaha yang lebih besar, meminjam di bank bukan hal tabu. Anda tinggal mengatur usaha agar lebih pesat lagi, tentu laba yang bakal dikeruk pun semakin “aduhai”. Jadi Anda masih bisa eksis dan membayar kredit di bank.

5. Tempat Strategis
Urusan tempat memang agak ribet, tapi jika sudah tahu kuncinya, ditanggung beres. Kuncinya adalah carilah tempat yang strategis. Strategis bisa jadi tempat yang ramai, dekat dengan aktivitas warga, atau dekat sekolah, kantor dan kampus. Tapi urusan tempat acapkali mengecoh lho, makanya harus hati-hati. Sebab ada juga tempat yang berada di lokasi yang tidak ramai dan strategis, eh ternyata berjubel pengunjung. Lalu kuncinya apa? Tentu saja, jika itu rumah makan, pelayanan dan makanan yang menggugah selera pastilah kuncinya. Intinya jika Anda sangat kesulitan menentukan tempat lokasi usaha, jangan gusar sebab Anda toh bisa menjual keunggulan lain yang Anda miliki.

Langkah lain yang bisa Anda tempuh, yakni menciptakan strategi khusus untuk menarik konsumen. Contohnya salah satu UKM di Yogya yang menjual makanan tradisional sebagai oleh-oleh yang tokonya berada di gang yang sempit. UKM tersebut memakai strategi dengan bekerja-sama dengan biro perjalanan/travel dan dalam setiap kemasan/bungkusnya dicetak peta/denah untuk mencapai lokasi UKM tersebut

6. Siap Buka Usaha
OK, Anda sudah siap dengan modal dan lahan usaha. Langkah berikutnya adalah siap membuka usaha. Jika Anda pemula dan benar-benar masih ‘hijau’ tak perlu berkecil hati. Anda harus tetap optimis, atau jika bisa, gandenglah mentor yang bisa membimbing dan mengawal selama masa-masa awal buka usaha. Di samping itu Anda perlu juga bergabung dengan komunitas-komunitas pengusaha. Karena dengan itu bisa mendapatkan bimbingan, saran, masukan secara berkesinambungan dengan biaya yang ringan. Di samping itu, jika mental sedang turun (negatif), peran mentor dan komunitas bisa menjadi sumber inspirasi dan pembangkit semangat.

7. Manajemen Resiko
Anda harus ingat sejak awal semua usaha berkait erat dengan resiko. Semakin usaha Anda berkembang dan dikenal luas, nama Anda dipertaruhkan. Ibaratnya semakin tinggi pohon tentunya semakin kencang angin menerpa. Oleh sebab itu, Anda harus selalu mengecek kemajuan bisnis Anda. Jika menjumpai keadaan yang janggal, Anda harus segera sigap.

8. Cerdas Menyikapi Kegagalan
Dalam menyikapi kegagalan (menurut Fuad Muftie), seorang entrepreneur harus segera sadar dan bergerak cepat. Sebab, banyak pengusaha yang setelah sadar; ternyata bisnisnya telah jalan di tempat, atau malah kolaps. Nah (menurut Fuad Muftie) kegagalan tersebut karena disebabkan beberapa hal, yakni:
a. Tidak memisahkan antara keuangan pribadi dengan keuangan bisnis/perusahaan. Ini penting bagi pemula agar sejak awal memisahkan keuangan perusahaan dan keuangan pribadi. Pemilik berhak mengambil bagian dari penghasilan/keuntungan bisnis. Tapi jumlah dan cara pengambilannya harus jelas tersistem. Dan setelah itu jangan sampai mencampur uang pribadi dan uang perusahaan. Adanya jumlah uang yang tersisa dari bisnis/toko tidak selalu menunjukkan keuntungan perusahaan.
b. Tidak adanya sistem yang baku. Bagi bisnis yang baru dirintis hendaknya mulai disiapkan sistemnya, sehingga jika mulai membesar, sistemnya sudah bagus. Dan kalau bisnis tidak berkembang, bisa dievaluasi sistem yang ada. Hendaknya dihindari sistem bisnis yang melekat pada pemiliknya; sehingga jika pemilik tidak ada/berhalangan, bisnis tidak ikutan berhalangan. Semakin kecil campur tangan pemilik dalam bisnisnya berarti bisnis itu semakin baik.
c. Sistem perekrutan karyawan yang kurang bagus. Perekrutan karyawan yang bagus biasanya akan menghasilkan karyawan yang bagus juga. Contohnya: Jika ada orang yang meminta pekerjaan dan langsung diberi pekerjaan, maka ia akan merasa “gampang banget gitu loh”. Akan beda jika perekrutan melalui tahap seleksi. Kemudian setelah diperoleh karyawan, kita bilang “Selamat, Anda diterima di perusahaan ini dan Anda telah mengalahkan 100 orang saingan Anda!”. Tentu akan beda semangat kerjanya.

9. Cerdas Memperlakukan Laba
OK, bisnis Anda sudah mengeruk laba menggiurkan, Anda pastinya bersemangat. Nah, laba yang sudah di genggaman harus perlakukan secara bijak. Jangan asal gelontorkan uang jutaan rupiah hanya untuk keperluan yang tidak perlu dan penting. Ingat Anda adalah seorang pengusaha, laba yang sudah digenggam harus Anda gunakan untuk memperbesar bisnis Anda. Jadi jangan terlena dengan laba yg menggiurkan.

10. Asah Kreativitas dan Kejelian
Jika bisnis Anda laris manis, itulah buah dari hasil kerja Anda selama ini. Jangan merasa puas dulu, para kompetitor/pesaing sudah banyak bertebaran. Kita lengah sedikit, bisa saja bisnis kita mengalami kemacetan. Maka rajin-rajinlah melakukan manuver yang brilian. Misalnya, jika Anda berbisnis makanan, raciklah menu yang unik dan kenalkan menu-menu baru yang beda dari biasanya, niscaya pelanggan tak bakal jemu. Cara lain, jika laba sudah “menggunung”, kepakkan sayap. Anda bisa membuka cabang di tempat lain dan bersiap-siaplah rupiah akan mengalir deras masuk ke kantong Anda.