Sop Buntut Legendaris

Awalnya tanpa brand. Setelah dikenal orang, mulai bikin brand. Tapi tetap saja tanpa promosi. Hanya mengandalkan word of mouth. Lantas, bagaimana mereka mengemas produknya sehingga mendapatkan pelanggan yang loyal?

Tahun 1978, sop buntut hanyalah salah satu menu standar di Hotel Borobudur Jakarta. Tahun 1981, saat Ani Susilowati masuk sebagai waitress, sop buntut itu diceritakan sudah populer. “Setahu saya, saat itu hanya di sini ada sop buntut berkelas hotel di Jakarta. Waktu itu memang belum banyak hotel di Jakarta,” ingat Ani yang sekarang telah duduk di jabatan puncak sebagai Food & Beverage Director itu.

Sampai dengan 1995, sop buntut di Bogor Café tersebut tetap saja belum punya brand. Padahal sudah dikenal di mana-mana. Saat itu Hotel Borobudur ditutup karena menjalani renovasi total. Praktis, sop buntut itu ikut hilang dari perbincangan. Tahun 1997 renovasi selesai. Bogor Café kembali dibuka. Sop buntut kembali disajikan. Barulah mulai muncul ide untuk memberi nama pada menu favorit tersebut. Disepakatilah sejak saat itu nama “Sop Buntut Legendaris”. Hingga sekarang, ketika disebut nama itu, orang akan selalu merujuk pada sop buntut Hotel Borobudur.

Kisah serupa terjadi pada Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli). Seperti dituturkan Pak Sadi kepada MARKETING, baru tahun 1989, ia memberi merek pada soto yang telah mulai dijualnya sejak tahun 1960 itu. Pak Sadi mulai berjualan di tanah kelahirannya, Lamongan, Jawa Timur, ketika ia masih berumur 18 tahun. Ia sendiri hanya jebolan kelas 5 SD.

Nama Ambengan diambil karena ketika pertama kali berjualan soto, tahun 1971, ia memilih lokasi di Jalan Ambengan. Maka, ketika membuka cabang di Jakarta tahun 1989, digunakanlah nama itu. Di Jakarta, telah empat kali Pak Sadi berpindah lokasi. Namun, semuanya tetap di ruas Jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru. Hanya bergeser lokasi dari nomor 24 ke 47, pindah ke nomor 30, hingga tiga tahun terakhir menempati sebuah rumah kontrakan di nomor 28.

Ada beberapa kesamaan pada kedua resto ini. Dari sisi produk, keduanya merupakan makanan khas Indonesia. Strategi promosi keduanya juga hanya mengandalkan word of mouth. Malah, belakangan Sop Buntut Legendaris tak lagi ditonjolkan. Kalau pun banyak pelanggan yang mencari sop buntut itu, pihak restoran mengarahkan pelanggan untuk membeli paket buffet, di mana di dalamnya termasuk Sop Buntut Legendaris.

Kesamaan lain, kesadaran menorehkan brand baru dilakukan setelah produk tersebut laku. Tidak dipersiapkan sedari awal. Seperti diakui keduanya, tidak ada kesengajaan secara marketing untuk menjadikan produk itu unggulan. Semua mengalir begitu saja.

Angka penjualan yang mereka catatkan pun menakjubkan. Dengan harga per porsi Rp56.000, setiap harinya rata-rata Sop Buntut Legendaris terjual sebanyak 500 mangkok, atau sama dengan 200 kg buntut sapi. Sedangkan Pak Sadi minta angka penjualan soto ayamnya yang per mangkok dijual Rp12.000 itu tidak dipublikasikan. “Takut didatangi petugas pajak lagi,” kilahnya. Inilah yang membedakan “kelas” mereka.

Perbedaan juga ada pada pengadaan barang. Semua buntut yang disajikan di Hotel Borobudur diimpor dari luar negeri. Sedangkan ayam untuk soto Pak Sadi didapatkan dari pasar lokal. “Kekhasan kami ada pada koya-nya, yakni kombinasi bawang putih dan krupuk udang (bukan pada ayamnya),” ungkap Pak Sadi. Sedangkan kekhasan sop buntut legendaris ada pada buntutnya. “Ketika ada wabah sapi gila, kami pernah coba pakai buntut lokal. Ternyata tidak cocok,” tutur Ani menjelaskan alasan memilih buntut impor. Di samping produknya, keduanya sama-sama memiliki kunci untuk menjaga kelezatan hidangan, yakni loyalitas kokinya.

Dengan cara itulah mereka mendapatkan pelanggan loyal, yang menjadi konsumen mereka sejak lama dan sulit berpaling ke tempat lain. Ke depan, Sop Buntut Legendaris akan tetap dipertahankan sebagai makanan tradisional berkelas hotel, sedangkan Soto Ayam Ambengan tetap dipertahankan sebagai makanan kelas rumah makan meski dengan pelanggan kelas menengah atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s