BEHAVIOR INTELIGENCE

BEHAVIOR INTELIGENT

Dalam bekerja ia hampir tidak pernah menolak tugas dan seolah tahu dengan jelas apa yang ia inginkan. Ia pun mengerjakan secara cepat dengan kualitas yang baik bahkan hampir sempurna . Bayangkan betapa bernilainya individu seperti ini.

Dalam situasi lain kita sering menemukan orang – oang yang selah olah tidak kepikiran mengenai apa yang harus dilakukan, meskipun sudah berpengalaman selama puluhan tahun. Ada yang jelas – jelas punya wewenang dan tanggung jawabyang tinggi di perusahaan, tetapi terlihat seolah melimpahkan semua pelaksanaan pada orang lain, seakan lupa bahwa oarng tersebut adalah ahli exsekusi.

Bila kita dengarkan baik baik, bisanya mereka punya analisis yang benar bahkan tidak jarang menunjukan pengetahuan, argumentasi yang cemerlang. Hanya saja ketika bicara soal pelaksanaan, bahkan yang sangat sederhana , pembicaraan mulai berputar – putardan mereka seolah – olah gelap dalam membuat ction plan dan kerangka waktu.

Teori yang begitu kuat langsung terasa  mentah bila individu tidak dapat menentukan prioritas, memilih hal apa yang harus dilakukan terlebih dulu, mana yang harus di pelajari, dan ana yang boleh disisihkan. Ujung – ujungnya kita menyebut individu – individu seperti ini sebagai “ OMDO “, Tidak Walk the talk

“ Behavior Inteligent “ adalah sekumpulan keterampilan dan kemampuan untuk menyeleksi, mengeksekusi, dan memilih tindakan yang tepat untuk mengelola suatu situasi , baik social maupun bersifat proyek nonmanusia.

Orang yang inteligensi emosi tinggi adalah smart with people, sementara orang dengan behavior intelligence tinggi, tahu cara menyelesaikan tugas, baik itu yang melibatkan orang maupun tidak.

Jadi emotional intelligence bisa embedded dalam behavior intelligence , tetapi tidak semua orang yang ber IQ tinggi otomatis memiliki behavior intelligence yang tinggi.

Orang denga behavior intelligence tinggi mempunyai kapsitas operasional yang kuat. Waktu, tindakan, keputusan, menjadi komoditas di dalam pikirannya. Ia pun peka deadline . Bahasanya  “ bahasa waktu “

Contoh : Dalam 30 menit kamar ini harus siap.

Bahasa “ kita “ biasa di gunakannya

Orang seperti ini tidak berkutat pada egonya tapi lebih terobsesi dengan menyelesaikan Tugas.

Bagi mereka sikap terhadap orang lain tidak sulit dikembangkan karena seseorang dengan operational excellence tahu harga orang lain, yang bisa diajak bekerja bersama dalam meyelesaikan tugasnya.

Iatilah “ pelaksana “ untuk karyawan yang berkemampuan “ operasional “ sering mengakibatkan kita lupa bahwa sampai tingkat executive pun kita perlu menguasai eksekusi.

Bahkan seorang jenderal George s paton terkenal dengan ucapannya “ An active mind cannot exist in an inactive body.

Kita perlu ingat peter drucker menekankan “ Executives are doers, they execute “, u tak banyak gunanya bila para executive tak mampu menerjemahkan ke dalam tindakan. Seorang pemimpin harus bisa mengecek kualitas dan pencapaian hasil dan langsung membayangkan cara – cara pencapaiannya.

Bukankah orang yang sukses melaksanakan tugas juga kan merasa happy ?????

“ A really great talent finds it happiness in execution “.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s